Selasa, 03 Januari 2012

Sosialisasi Politik Soekarno: Sebuah Tinjauan Idiosinkratik

Bab I
Jangan memikirkan apa yang negara berikan untukmu, tetapi pikirkan apa yang kamu berikan bagi negara” (John F. Kennedy)
Siap tidak kenal dengan sosok Soekarno, seorang yang paling tersohor di Indonesia. Betapa tidak, beliau merupakan seorang tokoh berpengaruh pada masa perjuangan kemerdekaan pada era 1945 hingga era 1960. Sayang, mungkin sebagian besar diantara kita ,masih belum tahu betul tentang asal-usul Soekarno. Beliau dilahirkan di sebuah kota kecil yang terletak di Jawa Timur, yaitu Blitar, pada 6 Juni 1901. Ayahnya merupakan seorang bangsawan Jawa kelas priyayi yang bernama Raden Sukemi Sosrodiharjo dan ibunya merupakan seorang keturunan kasta Brahmana dari Bali, yang bernama Ida Nyoman Rai. Ketika Soekarno berusia empat-lima tahun, dia pindah dari tempat kelahirannya meniju kota Tulung Agung (Kediri) yang merupakan kediaman kakeknya. Kakek Soekarno merupakan sosok yang fanatik terhadap mitologi klasik Jawa melalui tokoh-tokoh pewayangan. Soekarno kecil sering diajak oleh kakeknya pada pertunjukkan wayang. Mulai saat itu, internalisasi tokoh-tokoh wayang jawa menjadi melekat dalam benak seorang Soekarno, seseorang yang berpengaruh pada bangsa Indonesia kelak.
Salah satu tokoh wayang yang dikagumi oleh Soekarno adalah Bima. Maka tidak begitu salah ketika seorang ilmuwan barat yang bernama Bernhard Dham mangatakan “tidak ada jalan lain yang lebih baik untuk memahami Soekarno kecuali melalui Bima”(Bernhard Dham,1969:25). Bima merupakan tokoh pejuang sejati membela Pandawa, sosok pejuang suci, pemberani, tidak kenal kompromi dengan lawan-lawannya, da juga selalu siap bermufakat terhadap mereka yang segolongan dengannya. Nilai-nilai itulah yang dimaksud oleh Dham terinternaisasikan dalam karakter seorang Soekarno.
Dari cerita-cerita ini pula, Soekarno menyerap gagasan-gagasan mistikal Jawa tentang Ratu Adil dan Jayabaya. Gagasan pembaruan ini timbul akibat adanya suatu tatanan yang terdiatorsi serta diabaikannya pesan-pesan moral pada masyarakat. Dalam keadaan yang sedemikian parahnya, Ratu Adil kemudian tampil sebagai sosok yang dapat memulihkan kembali tata tertib yang tradisional. Ramalan Jayabaya mengatakan bahwa kedatangan Ratu Adil akan  membawa jaman keemasan dimana semua pertarungan dan ketidakadilan akan lenyap dan musnah. Rakyat tidak lagi akan mengalami penderitaan dan sehal kebutuhan akan terpenuhi dengan mudah (Sartono Kartodirjo,1977 :54). Dari nilai-nilai mitologi itulah, Soekarno mengenal ideologi pembebasan, konsep-konsep keadilan dan ketidakadilan, serta hubungan penguasa dengan rakyatnya.
Pendidikan sekolah formal Soekarno bertempat di Tulung Agung, yaitu Europeesche Largere Scholl (ELS) pada tahun 1914. Setelah lulus, kemudian dia melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) pada tahun 1915 dan lulus pada Juni 1921 (Solichin Salam, 1981:24). Masa-masa menempuh sekolah itulah yang membuat kesadarannya tentang keburukan diskriminasi sistem pendidikan kolonial tumbuh. Bagaimana rakyat-rakyat pribumi begitu dibedakan dengan anak-anak pejabat Belanda dan juga golongan bangsawan, mulai dari akses pendidikan serta kualitas pendidikan yang memprihatinkan.
Soekarno sudah mulai bergerak dalam aktifitas politik dengan bergabungnya beliau dengan Trikoro Darmo, yang artinya tiga tujuan suci yaitu kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial. Ketertarikannya pada kegiatan politik semakin kuat dengan mondok dan diasuhnya Soekarno dirumah tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto. Disinilah pandangan politik ideologi Soekarno berkembang dengan berkenalan dengan tokoh-tokoh yang kemudian memberikan banyak sumbangan bagi kesadaran politiknya, seperti Agus Salim, Soewardi Soerjoningrat, Ki Hadjar Dewantoro (John Legee;1985:64). Selain itu, beliau juga pernah bertemu dengan Hendrik Sneevlit, dan Alimin,yang dilkuskan Soekarno sebagai seseorang yang memperkenalkannya dengan Marxisme.
Kegandrungan Soekarno dalam membaca literatur-literatur serta sumber-sumber bacaan, juga menjadi bahan pengayaan pemikirannya. Dalam kegiatan memperdalam pemikirannya, Soekarno banyak terinspirasi dengan literatur-literatur Barat seperti Karl Marx, Frederichs Engels, Lenin, J.J Rosseau, dan juga Voltaire. Semua tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh revolusioner yang mampu mengubah bangsanya. Hal inilah yang menjadikan Soekarno lebih cenderung revolusioner dalam garis perjuangannya. Setamatnya di HIS Surabaya pada tahun 1921, Soekarno melanjutkan sekolahnya di Technische Hoge School (THS;Sekarang ITB) yang baru dibuka pad tahun 1920. Masa belajarnya di THS membuatnya semakinkuat dalam hal pemikiran-pemikiran politik dengan membaca buku-buku tentang nasionalisme, Marxisme, sosialisme, dan internasionalisme.
Pada era-era berikutnya, merupakan sebuah era perjuangan bagi Soekarno untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonialis Belanda. Ternyata pemikiran dan pandangan politik Soekarno memang merupakan suatu yang telah mengkristal, yang menimbulkan kesadaran beliau akan diskriminasi dan penderitaan yang diderita bangsa Indonesia. Hal in pula yang menjadi dasar perjuangan ideologinya, yang revolusioner, sehingga menjadi seorang tokoh yang berpengaruh pada jaman pasca kemerdekaan tahun 1945. Sebuah biografi singkat yang menarik untuk dikaji, bagi semua orang, tua muda, besar-kecil, bahkan kaya-miskin. Karena, hal ini memberikan kita gambaran betapa seorang pemimpin itu lahir tidak hanya karen momentum yang tepat untuk diraih, tetapi juga adanya pengaruh idiosinkratik yang sedikit banyaknya menentukan arah perjuangan dan juga pemikiran seseorang dalam melihat suatu fenomena dan juga kesenjangan yang ada. Itulah makna “Perjuangan Tanpa Batas!!!”










Bab II
Sejarah Pertentangan Soekarno-Hatta dan pengaruhnya terhadap kebijakan politik Indonesia 1956-1965
Soekarno-Hatta merupakan dua tokoh besar Indonesia yang jasa-jasanya kepada bangsa Indonesia tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebagai seorangmanusia biasa Sokarno-Hatta bukanlah seorang manusia yang sempurna, olehkarenanya kedua tokoh ini mempunyai kekurangan dibalik kelebihan yangdimiliki oleh keduanya. Soekarno mempunyai kelebihan karena Ia pandai dalam berorasi dalam menggerakan massa dengan jumlah yang cukup besar, sedangkan Hatta merupakan seorang administrator yang ahli dalam penyelenggaraan Negara namun tidak terampil dalam menghadapi massa.
Latar belakang kedua tokoh ini ikut membentuk karakter perjuanganmereka. Soekarno memperoleh pendidikan di dalam negeri sedangkan Hatta memperoleh pendidikan di Barat, dalam perjuangan melawan pemerintahankolonial Soekarno cenderung bersikap radikal (non kooperatif) berbeda denganHatta yang selalu bersikap kooperatif sehingga mendapat simpati dari kaum oposisi di parlemen Belanda.
Penelitian ini mengkaji tentang sejarah pertentangan Soekarno Hatta mulaidari keduanya terlibat dalam organisasi pergerakan sampai keduanya duduk dalam pemerintahan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan politik indonesia tahun 1956-1965 serta mengetahui sejarah pertentangan Soekarno-Hatta, khususnya pada pandangan-pandangan dan pemikiran-pemikiran keduatokoh ini dan pengaruhnya terhadap kebijakan politik Indonesia.
Pertentangan antara Soekarno-Hatta telah muncul sejak keduanya aktif dalam organisasi pergerakan kemerdekaan. Soekarno aktif dipergerakan dalam negeri sedang Hatta aktif di Perhim punan Indonesia (PI) di Belanda. Perjuangan nasionalis yang dilakukan oleh Hatta mendapatkan reaksi dari pemerintahBelanda, ia di suruh mempertanggungjawabkan kegiatan politiknya di hadapan Majelis Hakim yang menyidangnya. Dalam pembelaannya Hatta mulaimenyerang pemerintahan kolonial dengan tulisannya yang khas dan menarik,kemudian ia dibebaskan oleh pemerintahan Belanda. Momentum ini mengangkat nama Hatta di Percaturan politik nasional dan menjadi saingan serius bagiSoekarno yang menjadi pemimpin pergerakan di Tanah Air.
Orientasi politik Soekarno-Hatta mempunyai perbedaan yang sangattajam. Soekarno terus berfikiran untuk melanjutkan perjuangan revolusinya, diposisi yang lainnya Hatta berfikiran lain dengan lebih menginginkan untuk segera menghentikan revolusi, dan disusul dengan pembangunan manusia kearah yanglebih maju.
Kedua tokoh ini selalu saja terlibat dalam pertentangan pendapat sampai keduanya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus1945. Pasca proklamasi kemerdekaan pertentangan keduanya bukannya mereda tetapi malah semakin meruncing. Munculnya maklumat wakil presiden No X menggambarkan perbedaan pandangan keduanya semakin meruncing. Soekarno yang terispirasi dengan ide-ide mengenai suatu negara yang dipimpin oleh seorang penguasa tunggal berbeda pandangan dengan Bung Hatta yang menilaibahwa suatu negara yang baik itu bersifat liberal.
Manfaat dari penelitian ini adalah diharapkan bisa memberikan deskripsilain mengenai pemikiran kedua tokoh besar Indonesia yang lebih dikenal sebagaiFounding Fathers. Yang nantinya bisa merangsang bagi peneliti lain mengkaji secara lebih cermat lagi.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Yangsemuanya ada empat tahap yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Sehingga nantinya bisa menghasilkan karya yang bisa di konsumsi untuk menambah ilmu tentang sejarah pertentangan Soekarno-Hatta danpengaruhnya terhadap kebijakan politik Indonesia tahun 1956-1965.
Penelitian ini memperoleh hasil bahwa pertentangan Soekarno-Hattaterjadi sejak keduanya aktif sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia sampai padam asa demokrasi Parlementer. Dimana pada waktu itu Bung Hatta menggundurkandiri dari pemerintahan yang merupakan akumulasi dari pertentangannya denganSoekarno.
Pertentangan Soekarno-Hatta ternyata membawa dampak terhadapkebijakan politik Indonesia. Konfigurasi politik mempengaruhi lahirnya suatukebijakan politik, oleh karenanya pertentangan Soekarno-Hatta merupakan salahsatu faktor dari berbagai faktor lainnya yang mempengaruhi keluarnya kebijakanpolitik Indonesia tahun 1956-1965.\
Dampak dari adanya pertentangan Soekarno-Hatta adalah berkembangnyakekuasaan otoriter (Absoluth) yang dilakukan oleh Soekarno pasca di tinggalkanBung Hatta. Hatta dikenal sebagai penyeimbang atau pengontrol Soekarno agartidak terlalu otoriter. Akibatnya munculah kebijakan-kebijakan politik yangmembawa Indonesia ke Era Demokrasi Terpimpin. Pertentangan Soekarno-Hattamembawa pengaruh terhadap kebijakan politik Indonesia baik dibidang ekonomi,politik maupun sosial dan budaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Soekarno, Pelopor Islam Liberal Reportase Diskusi “Islam Liberal dalam Ajaran Soekarno”

Sayang, ungkap Soekarno, keberpihakan Kristen dan Islam kepada perempuan tidak lagi tampak dalam realitas kehidupan umat Kristen dan Islam. Ada jarak antara yang ideal dan faktual dalam pelbagai kehidupan dan pemikiran umat Islam. Dengan latar pemikran semacam itulah acapkali Soekarno menyebut Islam saat ini sebagai “Islam Sontoloyo” atau “Masyarakat Onta.”
Ada banyak kalangan yang memandang bahwa rumusan Dasar Negara yang disusun oleh Soekarno bukan hanya renungan mengenai Indonesia, melainkan juga refleksi atas perkembangan politik masyarakat dunia. Pancasila memuat klaim terhadap ide-ide besar pemikiran politik terbaru saat itu. Dia tidak hanya merespon gerakan kemerdekaan negara-negara jajahan kolonial, melainkan juga mengamati secara lebih dekat keruntuhan rezim kekaisaran Turki Utsmani, yang selama bertahun-tahun diaku sebagai simbol kedaulatan politik Islam.
Dengan demikian, pilihan politik Soekarno mendirikan Indonesia dengan dasar kebhinekaan bukan sekadar buah dari pemikiran “Barat,” melainkan juga respon mutakhir terhadap kegagalan politik rezim Islamis di dunia Islam. Kesadaran semacam itu tertuang dalam pelbagai tulisan Soekarno semisal Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dari Negara, Memudahkan Pengertian Islam, Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara, Islam Sontoloyo, dan seterusnya.
Diskusi Jaringan Islam Liberal, 28 Mei 2009, mengulas ajaran Soekarno mengenai Islam liberal. Panitia menghadirkan Prof. M. Dawam Rahardjo dan Dr. Yudi Latif sebagai pembicara. Diskusi yang dipandu oleh Novriantoni Kahar, MA itu berlangsung selama dua jam dan dihadiri oleh sekitar 100 peserta.
M. Dawam Rahardjo yang tampil sebagai pembicara pertama mengulas sejarah pemikiran Soekarno, khususnya mengenai persentuhan Soekarno dengan Islam. Sebetulnya, Soekarno dilahirkan tidak dalam tradisi santri, melainkan abangan. Ibunya bahkan berasal dari Bali dan beragama Hindu. Persentuhan Soekarno dengan Islam langsung pada level high Islam yang rasional filosofis, tidak dengan low Islam, yakni pendidikan Islam tradisional. Soekarno bersentuhan dengan Islam langsung pada tradisi pemikiran, bukan pada tradisi ritual.
Yudi Latif menambahkan bahwa latar belakang keluarga ini membuat Soekarno berdiri tidak di satu tradisi. Ayahnya, Sukemi, adalah seorang petani Jawa. Sementara ibunya, I Gusti Nyoman Ray, adalah seorang Hindu Bali. Latar belakang keluarga ini sangat berpengaruh dalam pembentukan watak pemikiran Soekarno yang eklektif.
***
Pembuangannya ke Endeh (1934) menjadi momentum Soekarno belajar Islam secara serius. Ia membaca buku-buku mengenai pemikiran Islam yang dikirim oleh kolega-koleganya, seperti A. Hassan. Cokroaminoto membawa Soekarno berkenalan dengan pemikiran Islam dari Muslim Ahmadiyah. Persentuhan Soekarno dengan Islam menjadi semakin mengarah ke ranah pemikiran setelah Soekarno membaca karya-karya Muslim Ahmadiyah tersebut. Ia membaca tulisan-tulisan Mohammad Ali, pendiri Ahmadiyah Lahore. Muhammad Ali menulis antara lain, The Holy Quran (terjemahan Alqur’an dalam bahasa Inggris), The Religion of Islam, Sejarah Muhammad, dan lain-lain. Sementara melalui Syaid Amer Ali, Soekarno membaca The Spirit of Islam yang kelak menjadi dasar bagi pemikirannya mengenai Api Islam.
Dalam ajaran Ahmadiyah dikenal doktrin mengenai kebutuhan membangun khilafah ruhaniyyah (spritualitas), bukan khilafah duniawiyyah (politik). Istilah “Api Islam” sangat kental terpengaruh dari doktrin ini. Soekarno menyaksikan betapa masyarakat Muslim dunia begitu beragam. Semuanya butuh kesatuan ummah dalam pengertian ruhani. Dari sini Soekarno menegaskan dukungannya kepada model Islam Turki modern.
Ketika banyak pihak mengusulkan Islam sebagai dasar negara, Soekarno memberi respon dengan mengajukan keberhasilan Mustafa Kemal Attaturk membangun Turki modern. Ia bersetuju dengan buku karangan Ali Abdul Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm, yang menyatakan bahwa risalah Nabi Muhammad tidak mengandung petunjuk eksplisit mengenai pilihan ideologi politik yang harus dianut oleh umat Islam. Ia menyatakan bahwa pilihan Attaturk memisahkan agama dari negara bukan hanya tidak melanggar syariat Islam, melainkan juga adalah respon cerdas terhadap kemunduran dunia Islam saat itu. Di banyak tulisan lain, Soekarno mengurai sederet kemunduran itu.
Pandangan bahwa Soekarno lebih mengapresiasi corak keberislaman di Turki dibantah secara serius oleh Yudi Latif. Menurut Yudi, Soekarno justru lebih mengapresiasi Islam Mesir ketimbang Turki. Turki, menurut Yudi, telah begitu ceroboh melakukan privatisasi agama, yakni membuang agama ke langit ketujuh. Sementara yang diinginkan Soekarno bukanlah pemisahan agama dari negara melainkan bagaimana memperbaharuinya.
Kesimpulan Yudi Latif cukup terkonfirmasi dalam pelbagai bentuk keprihatinan Soekarno pada kemunduran Islam. Pelbagai kemunduran itu, oleh Soekarno, dinilai sebagai fakta sosial, bukan kondisi yang diidealkan oleh ajaran Islam sendiri. Ketika membahas mengenai ketidaksetaraan gender dalam kehidupan umat Islam, Soekarno menilai hal itu melenceng dari cita-cita ajaran Islam. Baik Islam maupun Kristen, menurut Soekarno dalam buku Sarinah, datang dengan semangat mengoreksi budaya patriarki. Hal ini bisa dibuktikan dalam fakta bahwa kaum perempuanlah yang mula-mula menyambut baik ajaran Islam dan Kristen.
Kondisi ketertindasan perempuan dalam budaya patriarki membuat mereka berbondong-bondong memeluk Islam dan Kristen. Itulah sebabnya, dalam sejarah penyebaran Kristen, banyak sekali tokoh perempuan yang harus mati di tiang gantungan, dibakar, atau disalib karena menganut dan menyebarkan ajaran ini. Demikian pula dengan Islam. Islam berkembang pesat di Nusantara, misalnya, karena para perempuan penganut Hindu lebih memilih Islam yang egaliter. Mereka menghindar dari kewajiban dibakar hidup-hidup mengikuti suami yang meninggal dunia dengan menganut ajaran Islam. Justru karena dianut oleh para perempuan, maka kedua agama ini berkembang dengan sangat pesat.
Sayang, ungkap Soekarno, keberpihakan Kristen dan Islam kepada perempuan tidak lagi tampak dalam realitas kehidupan umat Kristen dan Islam. Ada jarak antara yang ideal dan faktual dalam pelbagai kehidupan dan pemikiran umat Islam. Dengan latar pemikran semacam itulah acapkali Soekarno menyebut Islam saat ini sebagai “Islam Sontoloyo” atau “Masyarakat Onta.”
***
Perkenalan Soekarno dengan tradisi pemikiran Islam, menurut Dawam, ditunjang oleh khazanah ilmu sosial yang telah pula ia serap dari Barat. Pandangan sosiologisnya dipengaruhi oleh materialisme historis Karl Marx, yang menjadi sangat kentara dalam buku Sarinah. Sementara pandangan agamanya dipengaruhi oleh Auguste Comte.
Kombinasi pelbagai tradisi keilmuan ini membawa Soekarno pada dua pendirian mengenai Islam: liberal dan progresif. Pada ranah liberalisme, Soekarno menekankan tentang pentingnya wacana pembebasan dalam Islam. Ia menulis Memudakan Pengertian Islam di Panji Islam (1949). Tulisan ini merefleksikan penguasaan Soekarno mengenai Islam dalam hal gejala sosialnya. Soekarno mempelajari aneka corak keislaman di pelbagai wilayah: Mesir, Palestina, India, Turki, Arab Saudi, dan lain-lain. Dari situ kemudian Soekarno mengambil kesimpulan bahwa apa yang disebut sebagai Islam bukanlah entitas tunggal, melainkan beragam. Gejala pluralisme, menurut Soekarno, ada dalam Islam, baik untuk kalangan eksternal, maupun internal.
Soekarno juga memandang bahwa Islam adalah ide progresif (idea of progress). Di sini, Soekarno menyimpulkan bahwa Islam yang tampak mundur dan tertatih-tatih untuk bangkit itu bukanlah sejatinya Islam. Kemunduran Islam, bagi Soerkarno, terutama disebabkan keengganan sarjana-sarjana Muslim menggunakan perspektif pengetahuan modern (modern science) dalam pemikiran Islam. Ia mengusulkan kepada pesantren-pesantren untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dalam tradisi Barat, di samping tradisi keilmuan Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar